Halaman Utama

From Ensiklopedia Museum Nasional Indonesia
Jump to: navigation, search
This page contains changes which are not marked for translation.

Other languages:
العربية • ‎English • ‎Bahasa Indonesia • ‎日本語 • ‎Basa Jawa • ‎Basa Sunda • ‎中文(中国大陆)‎ • ‎中文(台灣)‎
PUSTAKA in MUSEUM NASIONAL Of INDONESIA

Ensiklopedia ini adalah produk dari kegiatan mandiri yang ada di Seksi Perpustakaan, Bidang Registrasi dan Dokumentasi, Museum Nasional di Indonesia. Platform ini digunakan dan dikembangkan oleh Alfa Noranda dibantu oleh tenaga siswa/i Praktek Kerja Lapangan serta mahasiswa/i Magang yang ditempatkan di Pustaka Museum Nasional, menggunakan source code Mediawiki yang bersifat Open Source. Ensiklopedia ini bertujuan dalam menyampaikan informasi yang ada di perpustakaan dari bahan pustaka mengenai Benda Budaya sebagaimana diatur oleh Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan[1] serta benda benda koleksi Cagar Budaya atau diduga Cagar Budaya seperti yang diatur oleh Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya [2] kepada masyarakat secara daring sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 20 Tahun 2005 Tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan [3]. Berawal dari seringnya muncul pertanyaan pertanyaan kepada pengolah bahan pustaka mengenai informasi koleksi yang ada di ruang pamer Museum [4][5] Nasional[6][7], maka dibuatlah ensiklopedia ini, sehingga masyarakat dapat mengetahui secara langsung informasi koleksi. Informasi yang ada disampaikan berdasarkan kepada ketersediaan buku, serta data yang dikumpulkan dari bahan pustaka yang ada serta disediakan tanpa pemungutan biaya[8] dengan memperhatikan Hak Kekayaan Intelektual yang diatur dalam Undang Undang No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Kekayaan Intelektual [9], Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik [10], serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik [11], juga data data yang tersebar secara terbuka (domain public)[12] dari internet melalui katalog daring perpustakaan di Indonesia dan Luar indonesia. Sumber informasi dapat dilacak dari cite/catatan kaki serta daftar pustaka yang ter-link dibagian paling bawah di masing masing halaman.

Sejarah

Sejarah Organisasi

Museum Nasional yang sekarang telah melewati sejarah yang panjang, dengan rentang tahun dari 1778 hingga sekarang, ada sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VoC), East India Company (EIC), Nederlandsch Indisch (India Belanda), Greater East Asia War (Perang Asia Timur Raya) 大東亜戦争/Dai Tō-A Sensō, hingga setelah Kemerdekaan Republik Indonesia. Nama dari organisasi ini sepanjang sejarah juga mengalami perubahan seperti Bataviaasch Genootschap, Literacy Society, Koninklij Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenscappen, Lembaga Kebudayaan Indonesia, Museum Pusat serta baru menjadi Museum Nasional. Selain itu kepemilikkan organisasi ini juga sering berpindah seperti Republik Bataviaasch (Republik Batavia), Britania Raya (Inggris Raya), Nederlandsch Indisch (India Belanda), Nippon Raya (Jepang), dan sekarang Republik Indonesia.

Pada masa organisasi ini bernama Bataviaasch Genootschap dikuasai oleh Republik Bataviaasch (Republik Batavia), terdapat 148 lembaga pada 17 wilayah di dunia yang terkait dan menginduk kesini. Organisasi Organisasi tersebut berjejaring dalam urusan penelitian dan berbagi hasil Observasi di wilayah wilayah yang didatangi dan memproduksinya dalam bentuk buku dan jurnal penelitian. Jaringan ini dikenal dengan Multinational Art and Scientific Organization. Selanjutnya pada masa organisasi ini bernama Literacy Society masih berjejaring dengan anggotanya, namun pada waktu ini, organisasi dikuasai oleh Britania Raya. Kegiatannya bertambah dengan mulai mengumpulkan dan mendata objek budaya (koleksi) yang ditemui pada tempat tempat penelitian dan observasinya. sehingga pada masa ini terdapat tiga (3) produk yang dikumpulkan dan dibagi ke seluruh dunia yakni Hasil Penelitian, Jurnal, serta Katalog Informasi Objek Budaya (koleksi). Kegiatan ini tetap berlangsung pada masa organisasi ini mulai disebut sebagai Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenscappen dan dikuasai oleh Pemerintah Nederlandsch Indisch (India Belanda), organisasi ini mendapatkan penghargaan oleh Kerajaan Belanda karena melakukan pelestarian budaya diwillayah jajahan sehingga pada terjadi penambahan pada nama organisasi menjadi Koninklij Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenscappen. Selanjutnya pada saat perang dunia kedua (2) organisasi ini pernah diduduki oleh Nippon Raya (Jepang), hasil penelitian dan jurnal yang ada sempat dibuang dan hampir dibakar, akan tetapi ada usaha untuk melindungi oleh pegawai berkebangsaan Pribumi dengan menghubungi penguasa perang melalui bantuan angkatan laut yang terbentuk pada waktu itu, akhirnya pembakaran diurungkan. setelah kekalahan Nippon Raya pada saat Perang Asia Timur Raya organisasi ini ditinggalkan begitu saja dan dikelola oleh pegawai pribumi yang masih ada dan pegawai berkebangsaan Belanda yang kembali setelah Jakarta diduduki oleh Sekutu. hingga selanjutnya terjadi perubahan nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mana kepemilikannya masih ada pada Pemerintah Nederlandsch Indisch (India Belanda). Pada akhirnya, organisasi ini diserahkan aset beserta pegawai pribuminya kepada Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1962. Pada awal penguasaan oleh Pemerintah Republik Indonesia organisasi ini bernama Museum Pusat dan pada tahun 1979 berganti nama lagi menjadi Museum Nasional.

Sejarah Kepemimpinan

VoC

EiC

Nederlandsch Indisch

Republik Indonesia

Pada tahun 2020 seiring dengan kegiatan Reformasi Birokrasi, terjadi perubahan struktur organisasi di Museum Nasional. Model pengelolaan Museum Nasional diarahkan pada kegiatan ke-profesi-an (dapat dilihat pada gambar) berikut:

Stuktur Organisasi Museum Nasional Permendikbud 26 tahun 2020
Struktur Organisasi Museum.jpg

Perubahan ini berlaku sejak 30 Juni 2020. Dapat dilihat struktur organisasi menjadi ramping daripada sebelumnya. Untuk perpustakaan saat ini berada dibawah koordinasi Kepala Tata Usaha secara langsung.

Sarana Museum Dan Pustaka

Museum

Sarana Munas terbagi atas tiga (3) fungsi Bangunan yaitu: Pamer Koleksi dan Perkantoran, Gudang Terlihat dan Bimbingan Teknis (proses penyelesaian), dan serta Arsip Museum (proses penyelesaian). Bangunan yang berfungsi untuk Pameran Koleksi tersebut yang terdapat di Jalan Medan Merdeka Barat terdiri atas 3 bagunan. Gedung A merupakan bangunan Cagar budaya) yang berdiri disebelah selatan, Gedung B yang berdiri disebelah utara, dan Gedung C (proses penyelesaian) yang terdapat di Timur Gedung B. Tahun 2019 Gedung A dan Gedung B [13] [14] berfungsi sebagai Gedung Pamer Koleksi dan Perkantoran, pada bangunan gedung ini terdapat koleksi museum yang terdiri atas klasifikasi Koleksi Prasejarah, Koleksi Arkeologi, Koleksi Numismatik, Koleksi Tekstil, Koleksi Etnografi, Koleksi Sejarah dan Koleksi Geografi serta Manusia dan Lingkungan, Aksara dan Ilmu Pengetahuan, Sistem Sosial dan Pemukiman, Harta Karun dan Temuan Bawah Laut. Koleksi-koleksi itu tersebar di dua gedung dan disesuaikan dengan tema ruang pamer museum. Pada tahun 2018 bulan agustus tercatat ada seratus sembilan puluh enam ribu tiga ratus tujuh puluh enam (196.376) koleksi di Museum Nasional, hal demikian tidak terlepas dari kegiatan pengembangan koleksi yang telah berjalan tahun demi tahun. Tercatat lebih awal tahun 1982[13] terdapat delapan puluh ribu (80.000) koleksi, tahun 1993 [14] terdapat lebih kurang seratus sembilan ribu tiga ratus lima puluh tiga (109.353).

Pustaka

Selain pameran, Munas juga menyediakan perpustakaan. Untuk Pustaka Museum Nasional terdapat pada Bangunan Pamer koleksi, tepatnya pada Gedung B. Terdiri atas dua titik pelayanan perpustakaan diantaranya pustaka digital di lantai satu (1) dan pustaka cetak dilantai enam (6). Alur pelayanan perpustakaan ini dapat dilihat sebagai berikut:

Pelayananpemustaka.png

Perpustakaan atau disebut Pustaka Museum Nasional telah ada sejak berdirinya Bataviaasch Genootschap seperti yang telah disebutkan di bagian sejarah. Pustaka ini dahulunya adalah Perpustakaan tertua di Indonesia [15][16][17] dan se Asia Tenggara [18], namun semenjak berpisah dengan bagian yang ada di Perpustakaan Nasional saat ini menjadi berbeda. Tanda tanda pustaka di masalalu masih dapat ditemui, hal demikian dapat terbukti dari keberadaan Bahan Pustaka yang ada.

Adapun Bahan Pustaka tersebut merupakan koleksi pustaka yang dikelola Seksi Perpustakaan Bidang Registrasi dan Dokumentasi di Munas (2019) seperti Notulen Van de Algemeene en Directievergaderingen, Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde[19], Verhandelingen Een studie van het Timoreesche Dooden Ritueel, Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch – Indie, Oudheidkundig Verslag, Dagh Register Gehouden int Casteel Batavia, Catalogus van de Boeginese dan Jaarboek. Keberadaan buku langka tersebut ada dan masih dikelola bersamaan dengan buku kebudayaan lainnya. Selain dari buku berbahasa belanda (sumber) terdapat juga buku buku bertema kebudayaan serta museum. Pustaka Museum Nasional adalah perpustakaan yang bersifat khusus dan terbuka untuk umum, bahan pustaka koleksi Pustaka Museum Nasional berjumlah total Dua puluh tujuh ribu dua ratus dua puluh dua (27.222 (Januari 2018)) eksemplar. Sebanyak sepuluh ribu lima ratus lima puluh sembilan (10.559) eksemplar adalah bahan pustaka/Buku Langka peninggalan dari Bataviaasch Genootschap dan Lembaga Kebudayaan Indonesia, sisanya adalah buku yang didapat pasca penyerahan Lembaga Kebudayaan Indonesia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1969. Buku-buku tersebut dapat diakses pada katalog daring walaupun jumlah datanya belum sebanyak jumlah riil, awal tahun 2019 tercatat ada empat ribu tujuh ratus tujuh puluh lima (4.775) judul/eksemplar yang sudah didaringkan, jumlah tersebut masih 9% dari total keseluruhan eksemplar.

Saat sekarang (2019) Pustaka Museum Nasional mencoba untuk berbenah dengan pemanfaatan Sistim Informasi berbasis daring dengan cara mensinergikan fungsi perpustakaan sebagai tempat sumber informasi dan koleksi yang ada di Museum atau yang menyebar di perpustakaan lainnya yang ada di Indonesia seperti Katalog Perpustakaan Terpadu Direktur Jendral Kebudayaan, Katalog Bersama Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Katalog Indonesia One Search Perpustakaan Nasional, sehingga dapat tersedianya pengetahuan untuk masyarakat yang berkunjung ke ruang koleksi museum dan mengetahui deskripsi dari masing masing koleksi.

Daftar Pustaka

  1. Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan (diakses pada 30 November 2019)
  2. Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (diakses pada 3 November 2019)
  3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 20 Tahun 2005 Tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (diakses pada 16 Agustus 2019)
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 Tentang Museum (diakses pada 3 November 2019)
  5. Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan Dan Pemanfaatan Benda Cagar Alam Di Museum (diakses pada 3 November 2019)
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun 2016 Tentang Rincian Tugas Museum Nasional (diakses pada 3 November 2019)
  7. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 28 Tahun 2015 Tentang Organisasi Tata Kerja Museum Nasional (diakses pada 3 November 2019)
  8. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 41 Tahun 2018 Tentang Syarat dan Tata Cara Pengenaan Tarif Tiket Masuk Museum untuk Kegiatan Penelitian, Tamu Negara, Penyandang Disabilitas, Yatim Piatu, dan Lanjut Usia (diakses pada 3 November 2019)
  9. Undang Undang No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Kekayaan Intelektual (diakses pada 21 Maret 2019)
  10. Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (diakses pada 16 Agustus 2019)
  11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (diakses pada 16 Agustus 2019)
  12. Konten Terbuka (diakses pada 21 Maret 2019)
  13. 13,0 13,1 (1982/1983). Pedoman Pengembangan Museum Nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Museum Nasional. Jakarta
  14. 14,0 14,1 (1993/1994). Pedoman Pengembangan Museum Nasional . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Museum Nasional. Jakarta
  15. Hoop, A.N.J Th. A Th. Van Der. (1948). Short Guide To The Museum. Royal Batavia Society Of Arts And Science. Batavia.
  16. (1979). Pedoman Singkat Perpustakaan Museum Nasional. Museum Nasional. Jakarta
  17. (1973). Pedoman Singkat Untuk Mengunjungi Museum Nasional, Jakarta. Jakarta Pusat
  18. Wartowikrido, Wahyono. (2006). Cerita Dari Gedung Arca, Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta. Masup Jakarta dan Kundika. Jakarta
  19. Ebook Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen