Halaman Utama

From Ensiklopedia Museum Nasional Indonesia
Revision as of 15:43, 23 August 2019 by Alfa.noranda (talk | contribs)

(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to: navigation, search
Other languages:
العربية • ‎English • ‎Bahasa Indonesia • ‎日本語 • ‎Basa Jawa • ‎Basa Sunda • ‎中文(中国大陆)‎ • ‎中文(台灣)‎
PUSTAKA in MUSEUM NASIONAL of Indonesia

Ensiklopedia ini adalah produk dari kegiatan mandiri yang ada di Seksi Perpustakaan, Bidang Registrasi dan Dokumentasi, Museum Nasional di Indonesia. ensiklopedia ini bertujuan dalam menyampaikan informasi yang ada di perpustakaan dari bahan pustaka kepada masyarakat secara daring sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 20 Tahun 2005 Tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan [1]. Berawal dari seringnya muncul pertanyaan pertanyaan kepada pengolah bahan pustaka mengenai informasi koleksi yang ada di ruang pamer, maka dibuatlah ensiklopedia ini, sehingga masyarakat dapat mengetahui secara langsung informasi koleksi. Informasi yang ada disampaikan berdasarkan kepada ketersediaan buku, serta data yang dikumpulkan dari bahan pustaka yang ada dengan memperhatikan Hak Kekayaan Intelektual yang diatur dalam Undang Undang No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Kekayaan Intelektual [2], Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik [3], serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik [4], juga data data yang tersebar secara terbuka (domain public)[5] dari internet melalui katalog daring perpustakaan di Indonesia dan Luar indonesia. Sumber informasi dapat dilacak dari cite/catatan kaki serta daftar pustaka yang ter-link dibagian paling bawah di masing masing halaman.

Sejarah

Sejarah Organisasi

Vereenigde Oostindische Compagnie (VoC) ke Nederland Indie

Menurut Hoop [6](1948 hlm. 7) perkembangan perhimpunan ilmiah di Nusantara diawali dengan terjadinya revolusi intelektual yang dikenal dengan the age of Enlightenment di Eropa. Menurut Kinderen [7] (1878 hlm 1-15) untuk menyalurkannya ide dan gagasan ilmiah tersebut di Haarlem Belanda pada tahun 1752, didirikanlah sebuah perkumpulan ilmiah belanda (De Hollands Maatschappij der Wetenschappen). Akibat pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan berdirinya perkumpulan tersebut, kolektor bangsa Eropa di Indonesia kemudian mendirikan suatu lembaga ilmu pengetahuan yang bernama Bataviaasch Genootschap (BG) pada tanggal 24 April 1778.

BG ini didirikan untuk mengembangkan penelitian dalam bidang seni, ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah. Tertulis dalam Gedenkboek (1878) BG memiliki semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum). Salah seorang pendiri BG, yaitu Mr. Jacob Cornelis Mattheus Radermacher (directur) yang merupakan extra ordinair van Nederlands-Indie. Cornelis diduga menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di kota lama Jakarta (oud Batavia) sekarang Jakarta Kota. Selain itu, ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi buku dan benda budaya, sumbangan Cornelis inilah yang menjadi cikal materi/objek di BG dikemudian hari. Cornelis sampai di Batavia pada tanggal 21 Agustus 1767, terdaftar sebagai pegawai di Dewan Pengadilan pada Chamber of Amsterdam bertugas di Batavia . Selain Cornelis ada beberapa individu yang merupakan tokoh yang memiliki peran dalam pendirian BG pada tahun 1778 ini. Dapat diketahui dari dalam Gedenkboek (1778) Tokoh tokoh selain Cornelis adalah Jacob de Meijer berprofesi sebagai Pro Interim Advocaat Fiscaal, Josua van Inperen berprofesi sebagai Predikant, Johannes Hooijman berprofesi sebagai Predikant, Sirardus Bartlo berprofesi sebagai Schepen, Willem van Hogendorp berprofesi sebagai Koopman, Hendrik Nicolaas Lacle berprofesi sebagai sebagai Koopman, Jacobus van der Steeg berprofesi sebagai Practizijn, Egbert Blomhert berprofesi sebagai Notaris, Paulus Gevers berprofesi sebagai onder-Koopman masing masing dari mereka berperan sebagai Dirigeender Lenden/Pengarah dan Frederik Baron van Wurmb berprofesi sebagai Onder Koopman berperan sebagai Sekretaris.

Di masa lalu pada Batavia Genootschap Van Kunsten En Wetenschapen masih berada pada bayang-bayang perlindungan Pemerintahan Kerajaan Orange (dutch) dan Kerajaan Inggris, hal itu dilatarbelakangi karena Bataviaasch Genotshcap van Kunsten en Wetenschapen merupakan Organisasi Seni dan Keilmuan Multinasional yang konsen terhadap penelitian, Ilmu Pengetahuan serta Seni.

Pada tahun 1778 BG dilindungi oleh Reyner de Klerk[8] Keanggotaan organisasi pada masa in terdiri dari Directeuren (Kelompok Direksi), voorzittend Directeur (Kelompok Direktur Utama), Dirigeerende Leden (Anggota Tetap), Ordinairi Leden (Anggota Biasa), Extraordinaire Leden (Anggota Luar Biasa).

Pada tahun 1811[9]-1816 menjadi periode kepemimpinan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles bagian dari pemerintahan Kerajaan Inggris di Jawa yang sekaligus memimpin BG. Thomas Stamford Raffles (selanjutnya Raffles) memiliki ketertarikan dalam bidang ilmu pengetahuan terutama tentang botani, geologi, sejarah, dan purbakala. Perkembangan jumlah koleksi ternyata membuat gedung di Kalibesar semakin sempit. Sehingga Raffles kemudian mengusulkan untuk pembangunan gedung himpunan yang baru di Socitëit De Harmonie (di Jalan Majapahit No. 3 sekarang: dan dibangun ulang menjadi Gedung Sekretariat Negara) .

Dari tahun 1816 hingga 1923 Bataviaasch Genootschap secara tetap dipegang oleh pemerintahan Kerajaan Belanda. Pada rentang tahun tahun ini juga terjadi kepindahan ketiga kali bangunan yang digunakan sebagai pusat studi dan penelitian para ilmuwan BG ini. Bagunan dipindahkan ke jalan westplaten/barat lapangan (Sekarang Jalan Medan Merdeka Barat).

BG dipimpin secara bergantian oleh kaum elite Nederland Indie selanjutnya, adapun tokoh tokohnya seperti J Ekenholm, P.S. Maurisse, H. J. Van De Graf, J. Schneither, H. J. L. J. De Stuer, W. Bosch, dan lainnya .

Masa Peralihan

Pada tahun 1923, Bataviaasch Genootschap mendapatkan penghargaan oleh kerajaan nederland sehingga pada awalan nama BG diberi tambahan dengan “Koninklij” oleh pihak kerajaan. Penghargaan itu terkait dengan usaha panjang BG dalam melakukan pelestarian budaya daerah jajahan. Nama ini bertahan hingga tahun 1950 setelah kemerdekaan. Selanjutnya pada tahun 1950, seiring dengan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, BG melakukan penyesuaian nama dengan menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia dan di Pimpin oleh Raden Hoesein Djayaningrat hingga tahun 1962.

Serah Terima kepada Pemerintah Indonesia

Pada tahun 1962 adalah zaman baru dalam pengelolaan BG. BG diserahkan kepada pemerintah Indonesia yang berdaulat untuk pertama kalinya. Penyerahan ini adalah penyerahan penuh didalamnya asset dan manusia yang bekerja didalamnya, penyerahan dilakukan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Perubahan Nama Museum dan Pemekaran Lembaga

Pada masa ini, nama Lembaga Kebudayaan Indonesia (selanjutnya LKI) berubah menjadi Museum Pusat. LKI diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia didalam naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan selanjutnya disebut dengan Museum Pusat (selanjutnya MP). Di masa tersebut MP dipimpin oleh Amir Sutaarga. Amir Sutaarga sebelumnya adalah sekretaris dari LKI, dan kepemimpinannya berlangsung hingga tahun 1976.

Pada tahun 1976 terjadi perubahan kepemimpinan kembali pada MP. Pada tahun tersebut MP dipimpin oleh Bambang Sumadio hingga tahun 1984, Pada kepemimpin beliau ini nama MP berubah menjadi Museum Nasional (selanjutnya Munas) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tepatnya tahun 1979. Dilanjutkan oleh Teguh Asmar dari tahun 1984 hingga 1987, Selanjutnya Suwati Kartiwa dari tahun 1988 hingga 1998 dan Sri Endang Hardiati pada tahun 1998-2003. Pada rentang tahun 1976 hingga 1988, terjadi proses pengembangan dan pemisahan organanisasi yang melahirkan Perpustakaan Nasional [1] yang berdiri sendiri. Semenjak itu Munas berdiri mengelola koleksi, akan tetapi sebahagian dari koleksi perpustakaan masih ada di museum dan dimanfaatkan dalam menunjuang penggalian informasi mengenai koleksi yang ada di museum.

Perubahan Induk Organisasi

Tidak hanya perubahan dari nama yang sering terjadi melanda Munas di masa lalu. Perubahan induk organisasi juga sering terjadi. Pada tahun 2003 hingga 2010 Munas pernah beralih dari induk Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Kementerian Pariwisata Dan Kebudayaan. Pada periode ini Munas secara berurut dipimpin oleh Intan Mardiana 2004 hingga 2005, dilanjutkan oleh Retno Sulistianingsih S dari tahun 2005 sampai 2011, pada tahun 2010 pada kepemimpinan beliau Munas dipindah induk organisasinya kepada Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

Pada tahun 2011, Museum Nasional, Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan dipimpin oleh Gatot Ghautama dari tahun 2011 sampai 2012, selanjutnya digantikan oleh Intan Mardiana kembali dari tahun 2012 sampai 2017 dan terakhir pada pertengahan 2017 hingga sekarang dipimpin oleh Siswanto. Pada kegiatan perubahan Siswanto inilah terjadi beberapa perubahan dalam pengelolaan Munas, artikel lebih lanjut mengenai perubahan pengelolaan dapat dilihat dalam artikel mengenai Penyelenggaraan Penyelenggaraan Museum Nasional: Strategi Pengelolaan Dalam Pelayanan Masyarakat [10]. Munas adalah Satuan Kerja Pemerintahan yang memiliki tingkat Eselon IIb, berada dibawah koordinasi langsung Direktur Jendral Kebudayaan[11][12].

Sejarah Kepemimpinan

Sarana Museum Dan Pustaka

Museum

Sarana Munas terbagi atas tiga (3) fungsi Bangunan yaitu: Pamer Koleksi dan Perkantoran, Gudang Terlihat dan Bimbingan Teknis (proses penyelesaian), dan serta Arsip Museum (proses penyelesaian). Bangunan yang berfungsi untuk Pameran Koleksi tersebut yang terdapat di Jalan Medan Merdeka Barat terdiri atas 3 bagunan. Gedung A merupakan bangunan Cagar budaya) yang berdiri disebelah selatan, Gedung B yang berdiri disebelah utara, dan Gedung C (proses penyelesaian) yang terdapat di Timur Gedung B. Tahun 2019 Gedung A dan Gedung B [13] [14] berfungsi sebagai Gedung Pamer Koleksi dan Perkantoran, pada bangunan gedung ini terdapat koleksi museum yang terdiri atas klasifikasi Koleksi Prasejarah, Koleksi Arkeologi, Koleksi Numismatik, Koleksi Tekstil, Koleksi Etnografi, Koleksi Sejarah dan Koleksi Geografi. Koleksi-koleksi itu tersebar di dua gedung dan disesuaikan dengan tema ruang pamer museum. Pada tahun 2018 bulan agustus tercatat ada seratus sembilan puluh enam ribu tiga ratus tujuh puluh enam (196.376) koleksi di Museum Nasional, hal demikian tidak terlepas dari kegiatan pengembangan koleksi yang telah berjalan tahun demi tahun. Tercatat lebih awal tahun 1982[13] terdapat delapan puluh ribu (80.000) koleksi, tahun 1993 [14] terdapat lebih kurang seratus sembilan ribu tiga ratus lima puluh tiga (109.353).

Pustaka

Selain pameran, Munas juga menyediakan perpustakaan. Untuk Pustaka Museum Nasional terdapat pada Bangunan Pamer koleksi, tepatnya pada Gedung B. Terdiri atas dua titik pelayanan perpustakaan diantaranya pustaka digital di lantai satu (1) dan pustaka cetak dilantai enam (6). Alur pelayanan perpustakaan ini dapat dilihat sebagai berikut:

Pelayananpemustaka.png

Perpustakaan atau disebut Pustaka Museum Nasional telah ada sejak berdirinya BG seperti yang telah disebutkan di bagian sejarah. Pustaka ini dahulunya adalah Perpustakaan tertua di Indonesia [6][15][16] dan se Asia Tenggara [17], namun semenjak berpisah dengan bagian yang ada di Perpustakaan Nasional saat ini menjadi berbeda. Tanda tanda pustaka di masalalu masih dapat ditemui, hal demikian dapat terbukti dari keberadaan Bahan Pustaka yang ada.

Adapun Bahan Pustaka tersebut merupakan koleksi pustaka yang dikelola Seksi Perpustakaan Bidang Registrasi dan Dokumentasi di Munas (2019) seperti Notulen Van de Algemeene en Directievergaderingen, Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde[18], Verhandelingen Een studie van het Timoreesche Dooden Ritueel, Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch – Indie, Oudheidkundig Verslag, Dagh Register Gehouden int Casteel Batavia, Catalogus van de Boeginese dan Jaarboek. Keberadaan buku langka tersebut ada dan masih dikelola bersamaan dengan buku kebudayaan lainnya. Selain dari buku berbahasa belanda (sumber) terdapat juga buku buku bertema kebudayaan serta museum. Pustaka Museum Nasional adalah perpustakaan yang bersifat khusus dan terbuka untuk umum, bahan pustaka koleksi Pustaka Museum Nasional berjumlah total Dua puluh tujuh ribu dua ratus dua puluh dua (27.222 (Januari 2018)) eksemplar. Sebanyak sepuluh ribu lima ratus lima puluh sembilan (10.559) eksemplar adalah bahan pustaka peninggalan dari Bataviaasch Genootschap dan Lembaga Kebudayaan Indonesia, sisanya adalah buku yang didapat pasca penyerahan Lembaga Kebudayaan Indonesia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1969. Buku-buku tersebut dapat diakses pada katalog daring walaupun jumlah datanya belum sebanyak jumlah riil, awal tahun 2019 tercatat ada empat ribu tujuh ratus tujuh puluh lima (4.775) judul/eksemplar yang sudah didaringkan, jumlah tersebut masih 9% dari total keseluruhan eksemplar.

Saat sekarang (2019) Pustaka Museum Nasional mencoba untuk berbenah dengan pemanfaatan Sistim Informasi berbasis daring dengan cara mensinergikan fungsi perpustakaan sebagai tempat sumber informasi dan koleksi yang ada di Museum atau yang menyebar di perpustakaan lainnya yang ada di Indonesia seperti Katalog Perpustakaan Terpadu Direktur Jendral Kebudayaan, Katalog Bersama Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Katalog Indonesia One Search Perpustakaan Nasional, sehingga dapat tersedianya pengetahuan untuk masyarakat yang berkunjung ke ruang koleksi museum dan mengetahui deskripsi dari masing masing koleksi.

Daftar Pustaka

  1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 20 Tahun 2005 Tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (diakses pada 16 Agustus 2019)
  2. Undang Undang No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Kekayaan Intelektual (diakses pada 21 Maret 2019)
  3. Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (diakses pada 16 Agustus 2019)
  4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang Undang No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (diakses pada 16 Agustus 2019)
  5. Konten Terbuka (diakses pada 21 Maret 2019)
  6. 6,0 6,1 Hoop, A.N.J Th. A Th. Van Der. (1948). Short Guide To The Museum. Royal Batavia Society Of Arts And Science. Batavia.
  7. Genootschap, Bataviaasch. (1778). Gedenkboek: Het Bataviaasch Genootschap Van Kunsten En Wetenshappen, Gerurende De Eerste Eeuw Van Zijn Bestaan 1778-1878. Deel I. . Batavia. Ernst & Co
  8. Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap, Der Konsten en Wetenschappen, Tweede Deel-MDCCLXXXIV. . Batavia.
  9. Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap, Der Konsten En Wetenschappen, VII. DEEL 1814. . Batavia.
  10. Noranda, Alfa. (2018). Penyelenggaraan Museum Nasional: Strategi Pengelolaan Dalam Pelayanan Masyarakat. Museum Nasional. Jakarta
  11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 37 Tahun 2016 Tentang Rincian Tugas Museum Nasional
  12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 28 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kelola Museum Nasional
  13. 13,0 13,1 (1982/1983). Pedoman Pengembangan Museum Nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Museum Nasional. Jakarta
  14. 14,0 14,1 (1993/1994). Pedoman Pengembangan Museum Nasional . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Museum Nasional. Jakarta
  15. (1979). Pedoman Singkat Perpustakaan Museum Nasional. Museum Nasional. Jakarta
  16. (1973). Pedoman Singkat Untuk Mengunjungi Museum Nasional, Jakarta. Jakarta Pusat
  17. Wartowikrido, Wahyono. (2006). Cerita Dari Gedung Arca, Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta. Masup Jakarta dan Kundika. Jakarta
  18. Ebook Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen