首頁

From Ensiklopedia Museum Nasional Indonesia
Jump to: navigation, search
This page is a translated version of the page Halaman Utama and the translation is 34% complete.

Other languages:
العربية • ‎English • ‎Bahasa Indonesia • ‎日本語 • ‎Basa Jawa • ‎Basa Sunda • ‎中文(中国大陆)‎ • ‎中文(台灣)‎
PUSTAKA in MUSEUM NASIONAL of Indonesia

此線上百科全書是印尼國立博物館(Museum Nasional di Indonesia)註冊與文件紀錄處(Bidang Registrasi dan Dokumentasi)圖書館室(Seksi Perpustakaan)所獨立製作的成果。這份百科全書的目的為傳達圖書館中的圖書內容之資訊提供公眾線上使用。從常見問題集,到圖書館有關展示間館藏的資訊之處理,這份百科全書的創建便是為了讓人們能夠直接認識這些館藏。在此份百科全書中所提供的資訊主要是建立於可見於書籍之中、也有來自圖書館內現有的圖書資源、以及公開在網路上印尼國內或國際的開放可得(屬於公有領域)資料。所有資料的參考文獻都可以從在每一頁的底部所提供的「引用(cite)」/註腳以及列出之書目連結得到。

歷史源流

組織歷史

從荷蘭東印度公司(VoC)到荷屬東印度(Nederlands-Indië)

根據Hoop的著作[1](1948,頁7)指出,在印尼群島科學性質的學會組織之發展始於歐洲知識份子革新的啟蒙運動時代。根據Kinderen指出[2](1878年,頁1-15)這些科學想法的起自1752年於荷蘭哈倫市,當時一個荷蘭的科學性學會建立(De Hollands Maatschappij der Wetenschappen)。受到此學會的影響,歐洲許多在印尼的收藏家在稍後於1778年4月24日建立了一名做巴塔維亞學會(Bataviaasch Genootschap,簡稱BG)的科學機構。

BG was established to develop research in the fields of art, science especially in the fields of biology, physics, archeology, literature, ethnology and history. Written in Gedenkboek (1878) BG has the slogan "Ten Nutte van het Algemeen" (for the benefit of the general public). One of the founders of BG, namely Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher (directur) which was extra ordinair van Nederlands-Indie . Cornelis allegedly donated a house belonging to him on Jalan Kalibesar, a trading area in the old city of Jakarta (oud Batavia) now Jakarta City. In addition, he also donated a number of collections of books and cultural objects, Cornelis's contribution was the source of material / objects at BG in the future. Cornelis arrived in Batavia on August 21, 1767, registered as an employee of the Court of Justice at the Chamber of Amsterdam in Batavia. Besides Cornelis, there were several individuals who were leaders who had a role in the founding of BG in 1778. Can be known from within Gedenkboek (1778) Figures other than Cornelis are Jacob de Meijer who work as "Interca Advocaat Fiscaal Pro", Josua van Inperen work as "Predictant", Johannes Hooijman works as a "Predictant", Sirardus Bartlo works as "Schepen", Willem van Hogendorp works as "Koopman", Hendrik Nicolaas Lacle as "Koopman", Jacobus van der Steeg works as "Practizijn", Egbert Blomhert works as a "Notary", Paulus Gevers works as "Koopman onder" each of them acts as "Dirigeender Lenden" / Director and Frederik Baron van Wurmb works as "Onder Koopman" acting as Secretary.

In the past the Batavia Genootschap Van Kunsten En Wetenschapen was still in the shadow of the protection of the Government of the Kingdom of Orange (dutch) and the United Kingdom, because the Bataviaasch Genotshcap van Kunsten en Wetenschapen was a Multinational Art and Scientific Organization concerned with research, science and art.

In 1784 BG was Protected by Reyner de Klerk ​​[3] he also a Gouvenur Generaal van Nederlansch Indie. Organizational membership in this period consists of Directeureun (Group of Directors), voorzittend Directeur (Group of Main Directors), Dirigeerende Leden (Permanent Member), Ordinairi Leden (Ordinary Member), Leden Extraordinaire (Extraordinary Member).

In 1811 [4] -1816 became the period of the Lieutenant Governor General's leadership Thomas Stamford Raffles part of the British Kingdom government in Java which also led BG. Thomas Stamford Raffles (hereafter Raffles) has an interest in the field of science, especially about botany, geology, history, and archeology. The development of the collection turned out to make the building in Kalibesar narrower. So that Raffles later proposed to build a new association building at Socitëit De Harmonie (on Jalan Majapahit No. 3 now: and rebuilt into the State Secretariat Building).

From 1816 to 1923 the Bataviaasch Genootschap was regularly held by the government of the Kingdom of the Netherlands. In the span of this year there was also the third move of the building which was used as a center for the study and research of BG scientists. Bagunan was moved to the westplaten / west road of the field (Now Jalan Medan Merdeka Barat).

BG is led alternately by the next Indie Dutch elite, while the characters are like J Ekenholm, P.S. Maurisse, H. J. Van De Graf, J. Schneither, H. J. L. J. De Stuer, W. Bosch, and others.

Masa Peralihan

Pada tahun 1923, Bataviaasch Genootschap mendapatkan penghargaan oleh kerajaan nederland sehingga pada awalan nama BG diberi tambahan dengan “Koninklij” oleh pihak kerajaan. Penghargaan itu terkait dengan usaha panjang BG dalam melakukan pelestarian budaya daerah jajahan. Nama ini bertahan hingga tahun 1950 setelah kemerdekaan. Selanjutnya pada tahun 1950, seiring dengan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, BG melakukan penyesuaian nama dengan menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia dan di Pimpin oleh Raden Hoesein Djayaningrat hingga tahun 1962.

Serah Terima kepada Pemerintah Indonesia

Pada tahun 1962 adalah zaman baru dalam pengelolaan BG. BG diserahkan kepada pemerintah Indonesia yang berdaulat untuk pertama kalinya. Penyerahan ini adalah penyerahan penuh didalamnya asset dan manusia yang bekerja didalamnya, penyerahan dilakukan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Perubahan Nama Museum dan Pemekaran Lembaga

Pada masa ini, nama Lembaga Kebudayaan Indonesia (selanjutnya LKI) berubah menjadi Museum Pusat. LKI diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia didalam naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan selanjutnya disebut dengan Museum Pusat (selanjutnya MP). Di masa tersebut MP dipimpin oleh Amir Sutaarga. Amir Sutaarga sebelumnya adalah sekretaris dari LKI, dan kepemimpinannya berlangsung hingga tahun 1976.

Pada tahun 1976 terjadi perubahan kepemimpinan kembali pada MP. Pada tahun tersebut MP dipimpin oleh Bambang Sumadio hingga tahun 1984, Pada kepemimpin beliau ini nama MP berubah menjadi Museum Nasional (selanjutnya Munas) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tepatnya tahun 1979. Dilanjutkan oleh Teguh Asmar dari tahun 1984 hingga 1987, Selanjutnya Suwati Kartiwa dari tahun 1988 hingga 1998 dan Sri Endang Hardiati pada tahun 1998-2003. Pada rentang tahun 1976 hingga 1988, terjadi proses pengembangan dan pemisahan organanisasi yang melahirkan Perpustakaan Nasional [1] yang berdiri sendiri. Semenjak itu Munas berdiri mengelola koleksi, akan tetapi sebahagian dari koleksi perpustakaan masih ada di museum dan dimanfaatkan dalam menunjuang penggalian informasi mengenai koleksi yang ada di museum.

Perubahan Induk Organisasi

Tidak hanya perubahan dari nama yang sering terjadi melanda Munas di masa lalu. Perubahan induk organisasi juga sering terjadi. Pada tahun 2003 hingga 2010 Munas pernah beralih dari induk Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Kementerian Pariwisata Dan Kebudayaan. Pada periode ini Munas secara berurut dipimpin oleh Intan Mardiana 2004 hingga 2005, dilanjutkan oleh Retno Sulistianingsih S dari tahun 2005 sampai 2011, pada tahun 2010 pada kepemimpinan beliau Munas dipindah induk organisasinya kepada Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

Pada tahun 2011, Museum Nasional, Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan dipimpin oleh Gatot Ghautama dari tahun 2011 sampai 2012, selanjutnya digantikan oleh Intan Mardiana kembali dari tahun 2012 sampai 2017 dan terakhir pada pertengahan 2017 hingga sekarang dipimpin oleh Siswanto. Pada kegiatan perubahan Siswanto inilah terjadi beberapa perubahan dalam pengelolaan Munas, artikel lebih lanjut mengenai perubahan pengelolaan dapat dilihat dalam artikel mengenai Penyelenggaraan Penyelenggaraan Museum Nasional: Strategi Pengelolaan Dalam Pelayanan Masyarakat [5]. Munas adalah Satuan Kerja Pemerintahan yang memiliki tingkat Eselon IIb, berada dibawah koordinasi langsung Direktur Jendral Kebudayaan[6].

Sejarah Kepemimpinan

Sarana Museum Dan Pustaka

Museum

Sarana Munas terbagi atas tiga (3) fungsi Bangunan yaitu: Pamer Koleksi dan Perkantoran, Gudang Terlihat dan Bimbingan Teknis (proses penyelesaian), dan serta Arsip Museum (proses penyelesaian). Bangunan yang berfungsi untuk Pameran Koleksi tersebut yang terdapat di Jalan Medan Merdeka Barat terdiri atas 3 bagunan. Gedung A merupakan bangunan Cagar budaya) yang berdiri disebelah selatan, Gedung B yang berdiri disebelah utara, dan Gedung C (proses penyelesaian) yang terdapat di Timur Gedung B. Tahun 2019 Gedung A dan Gedung B [7] [8] berfungsi sebagai Gedung Pamer Koleksi dan Perkantoran, pada bangunan gedung ini terdapat koleksi museum yang terdiri atas klasifikasi Koleksi Prasejarah, Koleksi Arkeologi, Koleksi Numismatik, Koleksi Tekstil, Koleksi Etnografi, Koleksi Sejarah dan Koleksi Geografi. Koleksi-koleksi itu tersebar di dua gedung dan disesuaikan dengan tema ruang pamer museum. Pada tahun 2018 bulan agustus tercatat ada seratus sembilan puluh enam ribu tiga ratus tujuh puluh enam (196.376) koleksi di Museum Nasional, hal demikian tidak terlepas dari kegiatan pengembangan koleksi yang telah berjalan tahun demi tahun. Tercatat lebih awal tahun 1982[7] terdapat delapan puluh ribu (80.000) koleksi, tahun 1993 [8] terdapat lebih kurang seratus sembilan ribu tiga ratus lima puluh tiga (109.353).

Pustaka

Selain pameran, Munas juga menyediakan perpustakaan. Untuk Pustaka Museum Nasional terdapat pada Bangunan Pamer koleksi, tepatnya pada Gedung B. Terdiri atas dua titik pelayanan perpustakaan diantaranya pustaka digital di lantai satu (1) dan pustaka cetak dilantai enam (6). Alur pelayanan perpustakaan ini dapat dilihat sebagai berikut:

Pelayananpemustaka.png

Perpustakaan atau disebut Pustaka Museum Nasional telah ada sejak berdirinya BG seperti yang telah disebutkan di bagian sejarah. Pustaka ini dahulunya adalah Perpustakaan tertua di Indonesia [1][9][10] dan se Asia Tenggara [11], namun semenjak berpisah dengan bagian yang ada di Perpustakaan Nasional saat ini menjadi berbeda. Tanda tanda pustaka di masalalu masih dapat ditemui, hal demikian dapat terbukti dari keberadaan Bahan Pustaka yang ada.

Adapun Bahan Pustaka tersebut merupakan koleksi pustaka yang dikelola Seksi Perpustakaan Bidang Registrasi dan Dokumentasi di Munas (2019) seperti Notulen Van de Algemeene en Directievergaderingen, Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde[12], Verhandelingen Een studie van het Timoreesche Dooden Ritueel, Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch – Indie, Oudheidkundig Verslag, Dagh Register Gehouden int Casteel Batavia, Catalogus van de Boeginese dan Jaarboek. Keberadaan buku langka tersebut ada dan masih dikelola bersamaan dengan buku kebudayaan lainnya. Selain dari buku berbahasa belanda (sumber) terdapat juga buku buku bertema kebudayaan serta museum. Pustaka Museum Nasional adalah perpustakaan yang bersifat khusus dan terbuka untuk umum, bahan pustaka koleksi Pustaka Museum Nasional berjumlah total Dua puluh tujuh ribu dua ratus dua puluh dua (27.222 (Januari 2018)) eksemplar. Sebanyak sepuluh ribu lima ratus lima puluh sembilan (10.559) eksemplar adalah bahan pustaka peninggalan dari Bataviaasch Genootschap dan Lembaga Kebudayaan Indonesia, sisanya adalah buku yang didapat pasca penyerahan Lembaga Kebudayaan Indonesia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1969. Buku-buku tersebut dapat diakses pada katalog daring walaupun jumlah datanya belum sebanyak jumlah riil, awal tahun 2019 tercatat ada empat ribu tujuh ratus tujuh puluh lima (4.775) judul/eksemplar yang sudah didaringkan, jumlah tersebut masih 9% dari total keseluruhan eksemplar.

Saat sekarang (2019) Pustaka Museum Nasional mencoba untuk berbenah dengan pemanfaatan Sistim Informasi berbasis daring dengan cara mensinergikan fungsi perpustakaan sebagai tempat sumber informasi dan koleksi yang ada di Museum atau yang menyebar di perpustakaan lainnya yang ada di Indonesia seperti Katalog Perpustakaan Terpadu Direktur Jendral Kebudayaan, Katalog Bersama Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Katalog Indonesia One Search Perpustakaan Nasional, sehingga dapat tersedianya pengetahuan untuk masyarakat yang berkunjung ke ruang koleksi museum dan mengetahui deskripsi dari masing masing koleksi.

Daftar Pustaka

  1. 1,0 1,1 Hoop, A.N.J Th. A Th. Van Der. (1948). Short Guide To The Museum. Royal Batavia Society Of Arts And Science. Batavia.
  2. Genootschap, Bataviaasch. (1778). Gedenkboek: Het Bataviaasch Genootschap Van Kunsten En Wetenshappen, Gerurende De Eerste Eeuw Van Zijn Bestaan ​​1778-1878. Deel I. Batavia. Ernst & Co
  3. Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap, Der Konsten en Wetenschappen, Tweede Deel-MDCCLXXXIV. . Batavia.
  4. Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap, Der Konsten En Wetenschappen, VII. DEEL 1814. Batavia.
  5. Noranda, Alfa. (2018). Penyelenggaraan Museum Nasional: Strategi Pengelolaan Dalam Pelayanan Masyarakat. Museum Nasional. Jakarta
  6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 37 Tahun 2016 Tentang Rincian Tugas Museum Nasional
  7. 7,0 7,1 (1982/1983). Pedoman Pengembangan Museum Nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Museum Nasional. Jakarta
  8. 8,0 8,1 (1993/1994). Pedoman Pengembangan Museum Nasional . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Museum Nasional. Jakarta
  9. (1979). Pedoman Singkat Perpustakaan Museum Nasional. Museum Nasional. Jakarta
  10. (1973). Pedoman Singkat Untuk Mengunjungi Museum Nasional, Jakarta. Jakarta Pusat
  11. Wartowikrido, Wahyono. (2006). Cerita Dari Gedung Arca, Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta. Masup Jakarta dan Kundika. Jakarta
  12. Ebook Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen