Lembaga Kebudayaan Indonesia

From Ensiklopedia Museum Nasional Indonesia
Jump to: navigation, search

Awal Terbentuk 1950 [1][edit]

Bataviaasch Genootschap melakukan penyesuaian nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia dan dipimpin oleh Raden Hoesein Djayaningrat. pergantian ini seiring dengan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semboyan baru "memajukan ilmu ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya" dengan susunan pimpinan :

Pada masa kepemimpinan Hoesein Djayaningrat. LKI mengalami beberapa kendala karena situasi negara yang belum stabil sebab peralihan zaman Belanda ke zaman Jepang dan Kemerdekaan Indonesia. kendala utama adalah setelah merdeka ahli dari kalangan belanda pulang kembali ke negara asalnya yang tinggal hanya sejumlah tenaga bumi putra yang masih terbatas pengetahuannya. berbekal pengalamannya HD melakukan pembinaan dan pemberdayaan tenaga muda yang membuat koleksi museum tetap terawat dan tersaji dengan baik. .

Kondisi tahun 1954 [2][edit]

Rapat direksi Lembaga Kebudayaan Indonesia berlangsung di Museum yang dibuka langsung oleh ketua umum. Rapat menyampaikan hal diantaranya:

  1. Laporan bagian bagian Perpustakaan : Pendjilidan, pekerjaan berjalan terus dengan tenang dan baik dibawah pimpinan Hatam.
  2. kamar Gas dipakai 2 kali berada dibawah pengawasan panitera Direksi, Amir Sutaarga
    1. Membersihkan kira kira 3000 buku perpustakaan.
    2. Bank Indonesia membersihkan kumpulan uang kertas milik Bank kedua kalinya.
  3. Bagian peminjaman dan gudang buku menerbitkan beberapa aturan baru :
    1. aturan aturan baru untuk para peminjam.
    2. petunjuk petunjuk untuk pekerja digudang buku.
    3. petunjuk petunjuk untuk pekerjaan dibagian peminjaman

Perkembangan 1956[3][edit]

Rapat direksi Lembaga Kebudayaan Indonesia berlangsung di museum yang dibuka langsung oleh ketua umum dengan beberapa laporan dan hasil : Laporan singkat tentang pekerjaan dan usaha mempelajari wujud museum modern di Eropa Barat yang disusun oleh Moh. Amir Sutaarga yang isinya sebagai berikut:

  1. Menjadikan objek penyelidikannya ke beberapa point seperti arti dan fungsi museum dalam masyarakat,
  2. Organisasi kepegawaian museum,
  3. Tata usaha museum dan
  4. Teknik museum.

Kegiatan Museum modern di Eropa Barat disamping menyelenggarakan pameran tetap juga melakukan pameran tidak tetap. agar pengunjung dapat memperoleh pengertian yang sebenarnya tentang benda benda kebudayaan yang bersifat materil dengan latar belakang seluruh kebudayaan bangsa bangsa yang bersangkutan maka untuk mencapai tujuan itu, sebuah museum perlu dilengkapi dengan ruangan film, alat-alat audio visual. Dengan usaha usaha diatas Lembaga Kebudayaan Indonesia ingin mempratikkan dan menjadikan Lembaga Kebudayaan Indonesia menjadi Museum Modern.

Transisi 1962 [4][edit]

Lembaga Kebudayaan Indonesia dibubarkan lembaganya dan museum berganti nama menjadi museum pusat yang bertujuan menggambarkan keanekaragaman budaya indonesia atas usul Jhon Irwin dari Victoria & Albert museum London.pada tahun 1979 Museum pusat berganti nama menjadi Museum Nasional yang berada dibawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Daftar Pustaka[edit]

  1. (N.N.). 1950. Laporan Lembaga Kebudayaan Indonesia: Rapat Direksi Lembaga Kebudayaan Indonesia "Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen". Djakarta. Lembaga Kebudayaan Indonesia
  2. (N.N.). 1954. Laporan Lembaga Kebudayaan Indonesia: Rapat Direksi Lembaga Kebudayaan Indonesia "Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen". Djakarta. Lembaga Kebudayaan Indonesia
  3. (N.N.). 1956. Laporan Lembaga Kebudayaan Indonesia: Rapat Direksi Lembaga Kebudayaan Indonesia "Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen". Djakarta. Lembaga Kebudayaan Indonesia
  4. Hardiati, ES, Dkk. 2014. Potret Museum Nasional Indonesia Dulu Kini dan Akan Datang. Jakarta. Museum Nasional Indonesia