Muhammad Daffa Atallarick

From Ensiklopedia Museum Nasional Indonesia
Jump to: navigation, search

Muhammad Daffa Atallarick atau M. Daffa Atallarick merupakan mahasiswa tahun ke-4 di Politeknik Negeri Sriwijaya dengan mendalami bidang ilmu Pariwisata khususnya Bisnis Pariwisata, merupakan salah satu mahasiswa yang terdaftar melaksanakan kegiatan Kerja Praktik atau Magang[1] (Internship) di Museum Nasional Indonesia pada Bidang Registrasi dan Dokumentasi, Seksi Perpustakaan terhitung sejak 2 September - 18 Oktober dan 25 November - 6 Desember 2019, Seksi Registrasi pada 21 Oktober - 22 November 2019, dan Seksi Dokumentasi pada beberapa tanggal antara 11 - 22 November 2019.

Periode September[edit]

2 September 2019

Saya M. Daffa Atallarick, telah melewati hari pertama melaksanakan kegiatan Kerja Praktik di Museum Nasional Indonesia (Jakarta) pada bagian seksi Perpustakaan (Pustaka Museum Nasional). Di awali dengan mengenal lingkungan perpustakaan---pustaka digital dan perpustakaan fisik---termasuk berkenalan dengan Pak Abdillah, Pak Alfa Noranda, Pak Satria, dan Bu Nova. Kemudian saya diminta untuk membuat sebuah akun untuk mengakses situs daring perpustakaan Museum Nasional. Hari ini, saya mulai dengan sebuah pekerjaan sederhana tentang cara memasukan informasi koleksi kepustakaan---buku-buku referensi, jurnal, laporan, dll.---ke dalam situs daring perpustakaan Museum Nasional. Kemudian saya diberi kepercayaan untuk memberikan sumbangsih pemikiran tentang menjadikan perpustakaan Museum Nasional sebagai destinasi wisata literasi. Kemudian ide tersebut dijadikan infografis---bersama ketiga rekan kerja praktik, yaitu Muhammad Fahri, Nur Syamsiah, dan Eva Nurinayah---dan akan diunggah ke media sosial Museum Nasional.

"Ketidaktahuan membuat kita saling membenci, maka ketahuilah tentang satu sama lain maka kita dapat saling mencintai."


3 September 2019

Saya bersama rekan kerja---Eva dan Nur---melanjutkan tugas membuat infografis tentang Pustaka Museum Nasional. Sebelumnya, kami---saya, eva, dan nur---berkeliling Museum Nasional yang dipandu oleh Fahri. Kami melihat ada banyak peninggalan-peninggalan pada masa lalu---seperti Koleksi Arkeologi---yang masih terjaga dengan baik. Saya ingat tentang kutipan Pak Swan---seorang jurnalis senior yang konsisten dalam penulisan sejarah---bahwa "masa lalu selalu aktual". Selain itu, saya dan Fahri diminta oleh Pak Alfa Noranda dengan melaksanakan tugas menempel label barcode pada buku-buku tua peninggalan Belanda. Saya dan Fahri juga sempat berdiskusi singkat tentang Sejarah, Arkeologi, dan Pariwisata.

"Pengetahuan lahir dari pengalaman yang tidak disengaja."


4 September 2019

Saya bersama dengan Fahri melanjutkan tugas menempel label barcode pada buku-buku tua peninggalan Belanda. Dalam proses pengerjaan, kami mengalami kesalahan dikarenakan kurangnya ketelitian dan komunikasi yang membuat kesalahan penggunaan label yang seharusnya digunakan. Namun, permasalahan tersebut masih dapat diatasi setelah berkonsultasi dengan Pak Alfa. Setelahnya, kami perlu melakukan pendataan buku-buku yang sudah diberi label untuk keperluan laporan.

"Bekerja itu harus mempunyai seni, bukan sekedar melakukan tanpa pernah tahu apa yang dikerjakan."


5 September 2019

Saya dan Fahri kembali melanjutkan penempelan label pada buku-buku peninggalan Belanda. Sebelumnya, saya bersama Eva dan Nur kembali merancang infografis tentang prosedur pelayanan pustaka digital yang kemudian akan diunggah di media sosial perpustakaan Museum Nasional. Saya juga membantu pak Satria mengambil scanner dan komputer untuk diletakan di perpustakaan Museum Nasional.

"Perpustakaan bukan tempat yang membosankan, justru tempat yang sangat menyenangkan."


6 September 2019

Saya melanjutkan tugas penempelan label pada buku-buku peninggalan Belanda. Buku-buku yang kertasnya mulai rapuh, bahkan sebagian ada yang rusak dimakan organisme---kutu dan jamur buku. Antara sela waktu bekerja, saya---bahkan Fahri---mendengarkan beberapa wejangan dari Pak Alfa tentang kompatibel dalam bekerja. Saya pun berpikir, walaupun mengambil studi Bisnis Pariwisata dan ditempatkan---sementara---magang di seksi perpustakaan, mungkin sebagian orang bertanya tentang korelasi antara pariwisata dengan perpustakaan. Bila merujuk pada UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan[2], tentunya saya menyadari bahwa perpustakaan bukan sekedar tempat untuk membaca, meminjam berbagai buku, ataupun sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan lainnya. Perpustakaan juga merupakan sebuah tempat yang dapat dijadikan ruang rekreasi bagi para pemustaka. Dari dasar tersebut ditinjau melalui perspektif pariwisata, kata "rekreasi" dapat digunakan untuk mengembangkan perpustakaan menjadi salah satu alternatif berwisata yang menyenangkan. Jenis wisata yang dapat dikembangkan adalah wisata literasi, wisata edukasi, hingga wisata berbasis pendidikan.

"Ada banyak harapan dari langkah-langkah kecil menuju masa depan. Perlahan tapi pasti, semoga sampai tujuan."


9 September 2019

Saya mendapatkan tugas baru dari Pak Alfa untuk menyunting judul buku Tijdschrift: Indische Taal-, Land- En Volkenkunde[3] di e-katalog[4] Pustaka Museum Nasional. Walaupun pekerjaannya sederhana, namun butuh kesabaran serta ketelitian. Saya juga mendaftar menjadi anggota perpustakaan Museum Nasional. Caranya sederhana, melapor kepada petugas perpustakaan untuk mengisi formulir pendaftaran dengan materai 6000. Dapat juga melalui media daring. Pendaftarannya cepat dan kartu perpustakaan berlaku untuk satu tahun pemakaian.

"Berdoa sepenuh hati, bekerja sekuat tenaga."


10 September 2019

Saya kembali menyelesaikan tugas menyunting judul buku Tijdschrift: Indische Taal-, Land- En Volkenkunde[3] di e-katalog[4] Pustaka Museum Nasional. Kemudian saya mendapat tugas baru dari Pak Alfa untuk membantuk Pak Satria memasukan data berupa informasi buku di e-katalog[4] Pustaka Museum Nasional untuk mempermudah pemustaka dan pustakawan menelusuri buku yang mereka cari. Namun, pekerjaan ini akan dilaksanakan pada keesokan hari.

"Masa lalu akan menjadi cerita pengantar tidurmu yang menyenangkan."


11 September 2019

Saya mulai tugas memasukan data berupa informasi buku di e-katalog[4] Pustaka Museum Nasional. Ada lebih dari 20 buku yang telah saya masukan data informasinya. Pekerjaanya sederhana, tapi butuh kesabaran dan ketelitian. Melaksanakan Kerja Praktik di perpustakaan Museum Nasional membuat saya merasa senang dan belajar banyak hal.

"Pemikiranku perlahan mulai terbuka. Aku ingin belajar banyak hal dari sini."


12 September 2019

Saya melanjutkan tugas memasukan data informasi buku di e-katalog[4] perpustakaan Museum Nasional. Selain itu, saya---bersama Fahri---mendapat wejangan dari Pak Alfa tentang apa yang menyulitkan dari sebuah pekerjaan. Jawabnya singkat, adalah memunculkan sebuah ide. Saya juga mendapat masukan dari Pak Satria tentang target dalam bekerja. Setiap pekerjaan perlu ada target sehingga apa yang dikerjakan dapat terarah dan pada waktu selanjutnya dapat melakukan pekerjaan lainnya.

"Adalah buku. Teman terbaik untuk berdiskusi."


13 September 2019

Saya kembali memasukan data informasi buku di e-katalog perpustakaan Museum Nasional. Ada sekitar 15 buku yang telah saya masukan data informasinya. Selain itu, saya juga mulai menulis laporan Kerja Praktik untuk disampaikan pada seminar KP. Ada beberapa buku referensi terkait permuseuman yang saya cari dan baca untuk melengkapi informasi data pada laporan KP.

"Sesuatu yang dijaga, biarpun menua, akan tetap berada."


16 September 2019

Saya memasukan data informasi buku di e-katalog perpustakaan Museum Nasional sebanyak 15 buku. Kemudian saya juga melanjutkan penulisan laporan Kerja Praktik. Ada beberapa buku yang saya baca.

"Semangat bekerja."


17 September 2019

Saya memasukan data informasi buku di e-katalog perpustakaan Museum Nasional sebanyak 10 buku. Kemudian saya izin mengikuti seminar literasi di Perpustakaan Nasional. Saya juga ikut berjaga di Pustaka Digital Museum Nasional.

"Jangan pernah berhenti untuk menjadi lebih baik."


18 September 2019

Saya memasukan data informasi buku di e-katalog perpustakaan Museum Nasional sebanyak 10 buku. Kemudian saya juga membantu tugas rekan kerja praktik---Natanel---bersama Fahri dan Eva, ditemani oleh Pak Alfa di Gedung A. Tugasnya adalah mendata dan memfoto berbagai arca dan prasasti peninggalan kerajaan Hindu-Buddha. Saya memfoto sebanyak 57 dari gabungan arca dan prasasti.

"Melalui peninggalan di masa lalu, kita dapat belajar dan merasakan kembali atau mungkin berfantasi dengan kisah yang dimilikinya."


19 September 2019

Saya memasukan data informasi buku di e-katalog perpustakaan Museum Nasional. Saya juga kembali menulis rancangan laporan Kerja Praktik.

"Perlahan tapi pasti."


20 September 2019

Hasil publikasi infografik tentang Tijdscrift di Instagram: pustakamni

Saya bersama rekan kerja praktik---Eva, Fachri, dan Nur---membuat infografis "Did you know" tentang fakta apa saja yang ada di perpustakaan Museum Nasional. Kemudian saya melanjutkan penulisan laporan Kerja Praktik dan membaca buku referensi tentang Museum Nasional. Sudah 3 minggu menjadi bagian dari perpustakaan Museum Nasional. Walaupun hanya seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan Kerja Praktik, tetap saja saya merasa sangat senang. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Bukan hanya bertemu dengan orang-orang atau berada di lingkungan baru. Saya banyak belajar dan merasa termotivasi untuk lebih semangat dalam bekerja. Tugas-tugas di perpustakaan Museum Nasional yang diberikan, bagi saya adalah pekerjaan yang sederhana tapi tetap saja jika tidak dikerjakan justru membuatnya menjadi lebih sulit. Ada rasa tidak nyaman jika nihil pekerjaan di perpustakaan Museum Nasional, terkadang harus menunggu pekerjaan---instruksi---yang diberikan oleh Pak ALfa, Pak Satria, atau Bu Nova, terkadang juga membantu tugas-tugas dari rekan-rekan kerja praktik lainnya, bersama Fahri, Eva, dan Nur. Saling membantu untuk menyelesaikan tugas.

"Kita bisa menjadi kuat, ketika kita bersama mengubah kesulitan itu menjadi menyenangkan."


23 September 2019

Saya membantu beberapa pekerjaan sederhana di perpustakaan. Kemudian, saya menulis kembali laporan Kerja Praktik. Hari ini tidak begitu sibuk.

"Tetap semangat."


24 September 2019

Saya mengerjakan tugas baru dari Pak Alfa, yaitu menambah kategori di laman ensiklopedi perpustakaan museum nasional. Hari ini juga ada evaluasi kerja selama di perpustakaan, rekan-rekan Kerja Praktik menyampaikan soal dan solusi selama di sini. Saya belajar banyak hal dari orang-orang di perpustakaan Museum Nasional, mereka dari bidang keilmuan yang berbeda membuat saya ingin belajar banyak hal dari mereka.

"Tersesat di jalan yang benar."


25 September 2019

Saya melanjutkan tugas menambah kategori di laman ensiklopedia perpustakaan Museum Nasional. Kemudian saya memasukan informasi buku ensiklopedi di e-katalog perpustakaan Museum Nasional.

"Perpustakan merupakan rumah untuk mereka yang membangun peradaban."


26 September 2019

Saya memasukan informasi buku ensiklopedi di e-katalog perpustakaan Museum Nasional. Kemudian, saya mengikuti Seminar Nasional di Auditorium Museum Nasional tentang Peran Museum dalam Mendukung Generasi Muda Era Global oleh Museum Sumpah Pemuda. Selama melaksanakan kegiatan Kerja Praktik di Museum Nasional, saya ingin memanfaatkan banyak waktu saya untuk belajar dan belajar.

"Hanya ada dua hal yang akan diucapkan kepada waktu, yaitu maaf atau terima kasih."


27 September 2019

Saya bersama Fahri membantu Bu Nova dan Pak Satria membawa buku dan katalog Museum Nasional untuk pameran di Senayan. Kemudian saya juga mencoba membaca dan belajar menterjemahkan beberapa kata di buku Tijdschrift tahun 1835. Saya menggunakan google penerjemah dan kamus Bahasa Belanda. Saya juga membantu Pak Alfa menyebarkan 5 angket dari Tim Penilai Mutu Kemendikbud.

"Peninggalan di masa lalu jangan sampai hanya menjadi cerita, tetaplah terjaga untuk mereka di masa depan."


30 September 2019

Saya bersama Fahri mengerjakan tugas baru dari Pak Alfa untuk membersihkan buku ensiklopedi karya Antony Winkler Prins yang berjudul winkler prins algemene encyclopaedie edisi tahun 1933. Pak Alfa memberi sedikit wejangan bahwa mengerjakan pekerjaan seperti ini melatih rasa kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan. Kemudian saya, Fahri, bersama Eva dan Nur berdiskusi untuk membuat logo pada tampilan laman perpustakaan Museum Nasiona.

"Sekecil apapun usaha yang diberikan, adalah kontribusi paling berharga untuk kebaikan."

Periode Oktober[edit]

1 - 4 Oktober 2019

Masa peralihan bidang saat magang. Saya sempat mencoba kegiatan magang di Bidang Kemitraan dan Promosi. Namun, akhirnya saya kembali ke Perpustakaan untuk menyelesaikan masa magang di sini. Selama tanggal 1-4 Oktober 2019, saya menjalankan kegiatan magang saya seperti biasa. Sesekali saya kembali ke Perpustakaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Semenjak satu bulan di Perpustakaan, saya mulai menyukai tempat ini lagi. Dari dulu, sejak mengenal buku, saya selalu ingin punya perpustakaan di rumah---saya menyebutnya dulu ruang baca---betapa saya begitu menikmati tumpukan buku dan aromanya yang khas. Saya punya lemari berisi buku, yang mulai saya kumpulkan---beli---sejak di bangku sekolah dasar. Saya ingat, buku pertama yang saya beli adalah Kamus Bahasa Jepang dan Ensiklopedia Tokoh Berpengaruh Dunia. Berlanjut dengan buku lainnya.

Saat ini, saya menyadari bahwa bekerja di Perpustakaan bukanlah hal yang mudah. Mungkin sebagian orang akan merasa bosan dan melelahkan. Saya tidak melihat ke arah itu, saya lebih melihat bahwa bekerja di perpustakaan sama saja bekerja untuk menjaga ilmu, menyebarkannya, dan itu bermanfaat untuk banyak orang. Bukan hanya di Pustaka Museum Nasional, saya juga melihat berbagai aktivitas pustakawan di berbagai perpustakaan yang pernah saya kunjungi. Mereka punya pelayanan dan prosedur kerja tersendiri. Sangat disayangkan jika perpustakaan di Museum Nasional---Pustaka Museum Nasional---terabaikan atau banyak orang tidak mengetahuinya. Padahal di sini banyak menyimpan catatan-catatan masa lalu yang penting. Memang begitu sulit mendatangkan banyak orang untuk menyukai perpustakaan. Karena perpustakaan digunakan oleh pengguna---pemustaka---khusus yang kadang mencari referensi untuk penelitian. Fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi pemustaka masih kurang dikenal dan dikembangkan. Kemudian, budaya literasi masyarakat Indonesia pun yang masih kurang. Bahkan inovasi perpustakaan digital yang masih belum maksimal digunakan, menyebabkan perpustkaan mulai tertinggal.

"Hanya ada dua pilihan dari setiap pilihan yang ada, dan kita hanya memilih satu di antaranya. Pilihan yang bijak."


7 Oktober 2019

Saya bersama Fahri melanjutkan pekerjaan sebelumnya, yaitu membersihkan buku ensiklopedi karya Antony Winkler Prins yang berjudul Winkler Prins Algemene Encyclopaedie edisi tahun 1933. Kemudian, Saya, Fahri, Eva, dan Nur berdiskusi tentang logo untuk tampilan laman daring perpustakaan. Hari ini juga adalah hari terakhir Fahri magang di sini---perpisahan. Waktu yang begitu cepat berlalu dan saya belajar banyak hal dari Fahri tentang Arkeologi.

"Terus melaju untuk sampai tujuan."


8-11 Oktober 2019

Saya melanjutkan pekerjaan membersihkan buku ensiklopedi karya Antony Winkler Prins yang berjudul Winkler Prins Algemene Encyclopaedie edisi tahun 1933. Kemudian saya diminta oleh Pak Alfa untuk membuat perencanaan kerja, sehingga ada target kerja yang dapat dilakukan dalam satu hari. Saya membuat sekitar 7 daftar pekerjaan. Dalam satu hari, saya memilih dua pekerjaan yang akan saya lakukan. Dalam termin pertama, saya akan mulai bekerja dari jam 8.00 sampai 11.30 dan dilanjutkan pada 13.00 sampai 16.00 dalam termin kedua. Daftar pekerjaan itu adalah membuat infografis, memasukan data buku di e-katalog, membersihkan dan menyusun buku, melayani pemustaka, mengembangkan konten ensiklopedia perpustakaan, menjaga perpus, dan menyusun laporan Kerja Praktik.

Saya menyempatkan diri untuk membaca buku-buku tentang Museum Nasional dan khususnya yang membahas tentang perpustakaan. Sedikit sekali literatur yang dapat ditemukan. Dalam laporan Kerja Praktik, saya akan membahasa tentang pelayanan perpustakaan.

"Kamu kaya dengan ilmu yang bermanfaat bagi kebaikan."


14 Oktober 2019

Meminta Eva dan Nur untuk membantu membersihkan buku ensiklopedi karya Antony Winkler Prins yang berjudul Winkler Prins Algemene Encyclopaedie. Pekerjaan hari ini tidak begitu sibuk, berdiskusi ringan untuk menentukan konten selanjutnya tentang infografis. Pembuatan infografis dimaksudkan untuk mempromosikan atau memperkenalkan ke publik bahwa di Museum Nasional terdapat Perpustakaan yang tidak kalah pentingnya dan berpengaruh. Memang sulit, tapi itulah tantangannya. Saya, Eva dan Nur berusaha membuat konten yang informatif dan edukatif, serta persuasif untuk mengundang banyak orang datang ke perpustakaan dengan tujuan membaca buku, dll.

"Buku adalah teman setia. Hanya saja kita tak pernah menyadari itu."


15 - 18 Oktober 2019

Seperti biasanya, kembali menyelesaikan tugas-tugas yang belum diselesaikan. Saya, Eva, dan Nur kembali berdiskusi dan merancang infografis terbaru untuk dapat diunggah di media sosial Instagram Pustaka Museum Nasional. Membuat infografis tentu tidak begitu sulit jika sudah mendapatkan berbagai informasi yang berkaitan dengan konten. Eva dan Nur pandai dalam membuat infografis. Saya sendiri berusaha mencari informasi yang berkaitan dengan konten infografis. Tugas yang baru saja diberikan oleh Pak Alfa adalah membuat infografis tentang Dagh-Register. Sedikit informasi yang saya ketahui bahwa Dagh-Register merupakan buah daftar berbagai catatan yang dilakukan oleh Kastil Batavia di era VOC yang kemudian oleh Bataviaasch Genootschap dijadikan sebuah buku. Informasi-informasi yang termuat di dalam Dagh-Register merupakan catatan rinci yang disampaikan dengan apa adanya---berdasarkan kejadian pada masa itu---dan digunakan sebagai referensi oleh peneliti dalam penulisan pembentukan sejarah di Asia, khususnya Oost-India atau Hindia Timur.

Sesekali berdiskusi dengan Pak Alfa dan rekan lainnya, termasuk mencoba menerjemahkan buku terbitan BG dengan bahasa sumber---beberapa bahasa dalam satu kalimat---dan membaca berbagai referensi pustaka lainnya. Saya menyadari bahwa orang pada masa lalu sepertinya sudah meramalkan---membayangkan---bahwa apa yang mereka saksikan, rasakan, kemudian tuliskan akan berguna bagi banyak orang di masa yang akan datang. Budaya literasi sebenarnya merupakan budaya yang sudah berkembang jauh di peradaban kuno. Mereka telah mewariskan budaya dan gen bagi kita untuk melanjutkan apa yang mereka lakukan---seperti menulis informasi yang terjadi pada masa itu tanpa dilebih-lebihkan. Saatnya bagi kita untuk mengaktifkan gen teresebut untuk kembali menuliskan apa yang terjadi saat ini, sehingga dapat diketahui oleh mereka yang ada di masa yang akan datang.

Kembali tentang apa yang ditinggalkan oleh BG di Indonesia tentang penelitian mereka dan berbaga pustaka yang dapat dijadikan referensi---sumber primer. Mungkin cara mereka untuk menjajah pada saat itu adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Namun, di satu sisi lainnya, apa yang mereka tinggalkan dapat bermanfaat bagi kita. Sayangnya, kita melupakan semuanya. Perpustakaan Museum Nasional sebagai ruang di mana sumber-sumber primer tentang penelitian di Indonesia oleh Belanda pada masa itu telah menjadi ruang berkumpulnya kebingungan kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Ada berapa banyak orang yang menggunakan sumber primer ini untuk rujukan penelitian mereka (?) Tidak ada yang pernah tahu. Buku-buku ini semakin lama akan termakan waktu. Makin rapuh, berdebu.

Pertama kali ke Museum Nasional, tentu membuat saya merasa senang. Karena dapat melihat langsung peninggalan masa lalu yang selama ini saya lihat hanya melalui gambar-gambar di buku sejarah dan internet. Saya merasa kagum, dan berandai jika dapat memahami apa yang mereka tulis di prasasti, mengerti tujuan mereka menciptakan berbagai arca dan candi. Kemudian, memasuki ruang perpustakaan. Jantung saya cukup berdebar. Saya pikir, perpustakaan Museum Nasional hanya dapat dimasuki oleh mereka yang benar-benar ingin mencari informasi dan memanfaatkannya sebagai bahan penelitan---harus mengajukan surat, kemudian datang---ternyata tidak. Perpustakaan terbuka untuk siapapun dan hadir sesuai tujuan bangsa Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan juga tetap berpegang teguh dengan semboyan BG, yaitu Untuk Kepentingan Umum. Hingga saya melihat banyak pustaka yang sudah ada sejak abad ke-18. Ini adalah harta yang jangan sampai hilang begitu saja.

Selama melaksanakan kegiatan magang di perpustakaan Museum Nasional, saya mendukung penuh segala kegiatan dalam menjadikan perpustakaan Museum Nasional sebagai perpustakaan penyedia informasi untuk publik. Digitalisasi yang telah berlangsung dilakukan oleh perpustakaan untuk menyampaikan informasi kepada mereka yang tidak dapat berkunjung langsung, adalah cara terbaik dalam mewujudkan tujuan bangsa Indonesia dan semboyan BG. Mereka yang begitu jauh dari perpustakaan---pelosok negeri---tetap dapat mengakses secara daring di laman perpustakaan Museum Nasional yang saat ini sedang dikembangkan. Saat ini kita tidak perlu mempedebatkan persoalan penjajahan yang dilakukan pada masa lalu. Saatnya berjuang untuk melawan penjajahn itu dengan memberikan banyak pengetahuan secara luas kepada publik. Saya percaya bahwa masa depan perpustakaan Museum Nasional akan tetap baik. Saya pun bercita-cita ingin mempunyai perpustakaan yang dapat digunakan oleh banyak orang.

"Saatnya memafkan masa lalu dan menyambut baik masa depan."

Periode November[edit]

1 November 2019

Seperti biasa, kita bekerja sesuai dengan tugas-tugas yang diberikan sebelumnya. Suasana hari saat itu cerah menuju berawan, lalu mendung dan rintik hujan berlalu. Eva dan Nur---rekan kerja praktik dari UPNV Jakarta---menyelesaikan tugasnya di Museum Nasional. Dua bulan berlalu dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan baru.

Dalam dua minggu sebelumnya, saya tidak bekerja secara penuh di Perpustakaan dikarenakan saya diminta untuk membantu pekerjaan di Seksi Registrasi, yaitu melakukan pendataan, memberi label, dan mengemas koleksi untuk dipindahkan ke TMI. Walaupun begitu, saya tetap menyelesaikan tugas sebelumnya untuk membuat dan mengunggah infografis tentang Dagh-Register.

Perpustakaan kembali sepi, dan pekerjaan tetap diselesaikan.

"Tak perlu dikenal untuk diakui, terpenting adalah tetap dapat berbuat baik dan menjadi berguna bagi semua orang yang membutuhkan. Untuk kebaikan bersama."


8 November 2019

Setelah beberapa hari terakhir aktif di Seksi Registrasi dan membantu dalam pengemasan berbagai koleksi etnografi dan arca-prasasti untuk dipindahkan ke TMII, hari ini menyempatkan diri untuk rehat dan berlatih mengoperasionalkan atau memulai penggunaan SLIM bersama Pak Alfa.

SLIM merupakan sebuah akronim dari Senayan Library Information Management adalah sebuah media daring yang dapat digunakan oleh pustakawan dan pemusataka dalam mengolah informasi perpustakaan secara digital. SLIM telah banyak digunakan oleh berbagai instansi dan lembaga pemerintahan dalam membuat memasukan informasi koleksi pustaka mereka.

"Perpustakaan digital merupakan bukti dari berkembangnya peradaban literasi."

22 November 2019

Hasil publikasi infografik tentang Pustaka Museum Nasional di Instagram: pustakamni

Beberapa waktu, aktif mengikuti berbagai pekerjaan di Seksi Registrasi dan Seksi Dokumentasi, juga sembari membantu pekerjaan sederhana di Seksi Perpustakaan. Saya mengikuti berbagai pekerjaan di segala seksi di Bidang Registrasi dan Dokumentasi. Mulai dari pendataan, pengemasan, hingga pemindahan koleksi.

"Sinergi dalam bekerja itu diperlukan untuk mempermudah proses pelaksanaan kerja."


25-27 November 2019

Saya kembali membuat sebuah infografis tentang perpustakaan "Pustaka Museum Nasional". Pak Alfa menugaskan saya untuk membuat infografis tersebut. Saya membuatnya dengan sederhana walaupun menurut saya tidak begitu baik. Syukurnya, sekarang sudah banyak program yang dapat digunakan untuk membuat sebuah desain poster dan lainnya. Walaupun beberapa desain yang saya buat merupakan hasil dari kompilasi dari berbagai sumber, namun saya berusaha mengkreasikannya sebijak mungkin. Saya belajar banyak hal dari perpustaakaan di Museum Nasional.

"...yang terlupakan. Padahal perpustakaan merupakan sentra pembelajaran dan pengetahuan yang keberadaannya merupakan jantung dalam membangun peradaban."


28-29 November 2019

Saya menyelesaikan infografis. Hari ini ada pembukaan Pameran Melacak Jaap Kunst: Suara dari Masa Lalu. Saya bersama Pak Alfa, Pak Satria, Bu Nopa, dan Pak Abdillah menghadiri kegiatan tersebut. Setelahnya kembali bekerja seperti biasanya.

Waktu berganti dengan cepat. Tidak berasa bahwa sebentar lagi saya harus pamit dari sini. Kegiatan Kerja Praktik atau Magang sudah akan berakhir. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari sini. Bertemu orang-orang baru dan berkenalan. Belajar banyak hal tentang museum dan perpustakaan. Saya senang sekali.

"Terima kasih untuk setiap hal yang pernah dilakukan bersama."

Periode Desember[edit]

2 Desember 2019

Hari ini saya mendapat tugas dari Pak Satria untuk menambah informasi tentang Tijdschrift di e-katalog Pustaka Museum Nasional. Saya juga bertemu teman baru dari Universita Yarsi, yaitu Aulia Rahmaning Tyas, Intan Tri Purwani, dan Kiki Claudia Risdiansyah yang mereka merupakan mahasiswa studi Ilmu Perpustakaan. Ada sekitar 58 buku yang akan saya tambahkan informasinya di e-katalog dengan Tijdschrift terbitan tahun diantara 1928-1948.

"Ada fase di mana harus tumbuh, dan harus gugur.Tapi, gugur bukan berarti layu dan mati. Untuk tumbuh dan hidup lagi."


3-5 Desember 2019

Saya menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Satria tentang menambah informasi Tijdschrift di e-katalog Pustaka Museum Nasional. Kemudian saya merancang laporan Kerja Praktik untuk dilaporkan di Kampus sebagai syarat menyelesaikan semester ketujuh di tahun keempat kuliah. Saya juga meminta penilaian dari Seksi Perpustakaan, serta Bidang Registrasi dan Dokumentasi.

"Semangat dan jangan menyerah."


6 Desember 2019

Hari terakhir kegiatan kerja praktik atau magang di Museum Nasional, khususnya pada Bidang Registrasi dan Dokumentasi di Seksi Perpustakaan. Saya menyelesaikan semua tugas yang sempat tertunda dan mempersiapkan segala keperluan, seperti mengumpulkan berbagai data informasi untuk dapat dijadikan laporan ke kampus.

Waktu berganti dengan cepat dan tidak terasa sudah tiga bulan mengikuti beragam kegiatan di Museum Nasional. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa. Saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru yang tidak akan dilupakan. Dari sini saya belajar banyak hal. Terutama tentang motivasi kerja, inisiatif kerja, hingga kesabaran dalam bekerja. Bertemu dengan banyak orang-orang di Museum. Bekerja sama menyelesaikan berbagai tugas, berdiskusi, dan lainnya.

Secara khusus, saya ingin menyampaikan kesan dan pesan untuk Pustaka Museum Nasional. Di sini, saya belajar tentang bagaimana mengolah bahan pustaka menjadi lebih berguna, terjaga, dan terawat. Saya belajar banyak dari Pak Alfa dan Pak Satria tentang perencanaan kerja dan target menyelesaikan pekerjaan, termasuk Bu Nopa dan Pak Abdillah. Dulu, saya sempat berpikir bahwa pekerjaan di perpustakaan itu membosankan. Hanya duduk, mencatat, dan menyusun buku. Ternyata, pekerjaan di perpustakaan itu sangat banyak dan bukanlah pekerjaan yang bisa dianggap biasa saja, karena di perpustakaan ada banyak pekerjaan, seperti preservasi, konservasi, restorasi bahan pustaka, melayani pemustaka, membuat informasi dan lainnya. Pustaka Museum Nasional juga sedang menjalankan konsep perpustakaan digital, semua informasi yang berkaitan dengan perpustakaan akan dan sedang dimuat pada model digital. E-Katalog, E-Jurnal, E-Book, dan lainnya, termasuk mengembangkan ensiklopedia.

Selama kerja praktik atau magang di perpustakaan, saya bekerja untuk membuat infografis tentang perpustakaan bersama rekan-rekan magang lainnya. Selain itu, ikut melakukan pembersihan terhadap buku, mencatat, memasukan informasi, melayani, dan terpenting adalah belajar untuk lebih giat dalam bekerja. Di perpustakaan juga sering melakukan diskusi singkat.

Saya berharap Pustaka Museum Nasional kedepannya dapat menjadi perpustakaan yang mampu mengolah informasi secara arif dan profesional. Semua usaha yang dilakukan akan menghasilkan keberhasilan yang bermanfaat untuk semuanya.


"Terima kasih."

Referensi[edit]

  1. Magang Politeknik Sriwijaya. Museum Nasional Indonesia
  2. UU Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. (Diakses pada 6 September 2019)
  3. 3,0 3,1 Unduh E-Book Tijdschrift
  4. 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 E-Katalog Pustaka Museum Nasional